<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nisakusumaningtyas's Blog</title>
	<atom:link href="http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com</link>
	<description>PEKALONGAN KOTA BATIK</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Apr 2009 23:15:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nisakusumaningtyas.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Nisakusumaningtyas's Blog</title>
		<link>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/osd.xml" title="Nisakusumaningtyas&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anak Durhaka</title>
		<link>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/04/07/anak-durhaka/</link>
		<comments>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/04/07/anak-durhaka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 22:57:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nisakusumaningtyas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[ANAK DURHAKA Diangkat dari cerita “Malin Kundang” oleh Nisa K Di sebuah desa yang diberi nama desa Sekarwangi, tinggallah ibu dan seorang anak yang diberi nama Darwin. Hidup mereka sangat sederhana. Ibu Darwin hanya bekerja sebagai pencari kayu di hutan, sedangkan Darwin hanya membantu ibunya.Meskipun hidup mereka sederhana, tapi mereka bahagia karena mereka selalu bersyukur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nisakusumaningtyas.wordpress.com&amp;blog=6977271&amp;post=26&amp;subd=nisakusumaningtyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ANAK DURHAKA</strong><br />
<em>Diangkat dari cerita “Malin Kundang”</em></p>
<blockquote><p>oleh Nisa K</p></blockquote>
<p>	Di sebuah desa yang diberi nama desa Sekarwangi, tinggallah ibu dan seorang anak yang diberi nama Darwin. Hidup mereka sangat sederhana. Ibu Darwin hanya bekerja sebagai pencari kayu di hutan, sedangkan Darwin hanya membantu ibunya.Meskipun hidup mereka sederhana, tapi mereka bahagia karena mereka selalu bersyukur dengan apa yang mereka miliki sekarang.<br />
	<span id="more-26"></span>Suatu hari ketika Darwin sedang menonton televisi di rumah tetangganya, ia melihat tayangan televisi yang menggambarkan orang-orang kaya. Ia berpikir, hidupnya sekarang ini akan bisa lebih baik apabila ia bekerja. Kemudian Darwin meminta ijin kepada ibunya untuk mencari pekerjaan.<br />
	“Ibu, Darwin akan mencari pekerjaan agar hidup kita bisa lebih baik. Ijinkanlah ibu!”kata Darwin sambil menangis.<br />
	“Kemana kamu akan mencari pekerjaan?”<br />
	“Di desa ini Bu!”<br />
	“Baiklah. Ibu mengijinkan.”<br />
	Darwin pun mencari pekerjaan, hingga ia memperoleh pekerjaan yang dirasa cocok dengannya. Namun setahun Darwin bekerja, hidupnya tidak kunjung membaik. Ia meminta ijin kepada ibunya untuk mencari pekerjaan di kota.<br />
	“Ibu, hidup kita belum juga membaik. Darwin meminta kepada ibu untuk mengijinkan Darwin mencari pekerjaan di kota!”<br />
	“Jangan anakku. Ibu tidak ingin jauh darimu. Ibu sudah cukup senang dengan kehidupan kita sekarang.”<br />
	“Tapi ibu, hidup kita akan lebih menyenangkan jika kita memiliki banyak uang. Bukankah saat ini kita selalu kekurangan uang?”<br />
	“Kebahagiaan bukan didapat dari uang Darwin!”<br />
	“Ayolah ibu!Tolong ijinkan Darwin ke kota!”<br />
	Setelah dipaksa beberapa saat,akhirnya ibu Darwin mengijinkan Darwin untuk pergi ke kota.</p>
<p>	Pagi harinya Darwin mengemasi pakaian-pakaian yang akan dibawanya ke kota. Ia juga membawa perbekalan secukupnya untuk perjalanannya ke kota.<br />
	Dengan hati yang sedih, ibu Darwin melepaskan kepergian anaknya.<br />
	“Ibu, Darwin pergi ke kota dahulu. Darwin akan sering pulang ke rumah untuk menengok ibu. Doakan Ibu agar Darwin sukses di kota!”<br />
	“Iya anakku. Ibu akan selalu mendoakanmu.Hati-hati!”Ibu Darwin menangis.<br />
	Darwin mengangguk pelan.</p>
<p>	Sesampainya di kota, Darwin merasa bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dikerjakannya sekarang. Ia duduk di bawah pohon besar sambil berpikir, dia tidak sadar bahwa bahaya datang mendekatinya.<br />
	Tas Darwin yang berisi uang dan baju diambil oleh pencuri. Darwin berlari mengejar pencuri itu sambil berteriak. Ketika sampai di jalan Darwin tidak sadar bahwa ada sebuah mobil yang sedang melintas. Mobil itu menabrak Darwin. Beruntung pemilik mobil orang yang baik, sehingga mau bertanggungjawab. Darwin ditolong dan dibawa ke rumah sakit.<br />
	Saat Darwin sadar, Darwin bercerita kepada pemilik mobil yang telah menabraknya bahwa dia datang ke kota untuk mencari pekerjaan.<br />
	Ternyata pemilik mobil itu adalah pemilik perkebunan yang ada di kota. Pak Jaka namanya Dan Darwin akhirnya ditawari untuk bekerja di perkebunan. Setelah Darwin bekerja di perkebunan, dia bisa mendapat uang yang cukup. Dia sering mengirim uang untuk ibunya di rumah. Tapi Darwin tidak pernah menjenguk ibunya karena Darwin sangat senang dengan pekerjaannya.</p>
<p>	Setahun berlalu, akhirnya Darwin bisa mengumpulkan uang cukup banyak. Dia meminta ijin kepada pak Jaka bahwa dia akan berwirausaha. Darwin mendirikan sebuah warung makan kecil. Awalnya warung makan yang didirikan Darwin hanya satu, tapi karena banyak pelanggannya, akhirnya Darwin mendirikan rumah makan yang besar dan terdapat di banyak tempat.</p>
<p>	Kini Darwin sudah menjadi orang kaya. Rumah makannya terkenal dimana-mana. Ia juga memiliki seorang istri yang cantik dan juga kaya. Sementara Darwin bersenang-senang dengan kekayaannya, seorang wanita tua sedang duduk lemas sambil menatap atap-atap rumahnya yang berlubang. Tubuhnya kurus kering. Di hatinya sedang menanti seseorang yang pernah berjanji kepadanya untuk sering pulang ke rumah.</p>
<p>	Suatu ketika Darwin akan mendirikan rumah makan di desa ibunya. Dia datang untuk melihat lokasi yang akan didirikan rumah makan dengan menggunakan mobil mewah dan bersama istrinya. Orang-orang desa yang melihat Darwin naik mobil mewah, segera pergi ke rumah ibu Darwin. Mereka ingin memberitahukan bahwa Darwin sudah datang ke desa itu kembali.<br />
	“Bu Inah…Bu Inah…Darwin pulang Bu. Darwin pulang naik mobil mewah!”<br />
	“Benarkah Pak?”<br />
	“Iya. Dia sekarang ada disana!”<br />
	Ibu Darwin sangat senang. Dia segera berlari untuk menemui anaknya.</p>
<p>	Sesampainya di tempat tujuan, ibu Darwin memanggil anaknya dengan suara keras, “DARWIN!”<br />
	Darwin menoleh ke arah suara yang memanggilnya itu. “Ibu.”kata Darwin pelan.<br />
	“Apa Darwin? Dia ibumu? Kamu anak orang miskin?” kata istri Darwin.<br />
	Darwin malu mengatakan kepada istrinya bahwa wanita tua di depannya itu adalah ibunya. Istri Darwin merasa curiga. Dia terus membujuk agar suaminya berkata jujur, tapi Darwin tetap mengatakan bahwa wanita tua itu bukan ibunya. Darwin justru mengusir dan membentak ibunya.<br />
	“Siapa kamu! Berani-beraninya mengaku sebagai ibuku! Ibuku orang kaya tidak sepertimu. Pergi!”<br />
	Ibu Darwin kaget melihat sikap anaknya, “Anakku aku ini benar-benar ibumu! Sungguh anakku!” Dia berdiri di depan Darwin sambil menangis. Tapi Darwin tetap tidak mengakui.<br />
	“Pergi!” bentak Darwin.<br />
	Ibu Darwin marah. Dia lalu mengatakan bahwa Darwin akan celaka. “Kau akan celaka anakku!” kata ibu Darwin sambil pergi dari tempat itu.<br />
	Darwin merasa kaget dengan perkataan ibunya. Dia ingin minta maaf, tapi dia masih malu dengan istrinya, padahal istri Darwin terlihat gelisah.</p>
<p>Setelah selesai melihat lokasi yang akan di bangun rumah makannya, Darwin melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di jalan raya, Darwin merasa mengantuk. Matanya tidak dapat berkonsentrasi. Dia tidak menyadari bahwa di depannya ada sebuah truk. Kecelakaanpun tak terhindar. Darwin dan istrinya mati seketika.<br />
Di sebuah rumah yang atap-atapnya telah berlubang, tampak seorang wanita tua sedang duduk lemas sambil menangis. Perasaannya tidak enak. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nisakusumaningtyas.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nisakusumaningtyas.wordpress.com&amp;blog=6977271&amp;post=26&amp;subd=nisakusumaningtyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/04/07/anak-durhaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bda6cb9b87b35cd3c484270f15d31bf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nisakusumaningtyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CERPEN KE 3</title>
		<link>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/04/07/cerpen-ke-3/</link>
		<comments>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/04/07/cerpen-ke-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 22:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nisakusumaningtyas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Pesan Oleh : Nisa Kusumaningtyas Awan mendung menyelimuti desa Sekarwangi. Di depan rumah sederhana yang terletak paling pojok, tampak seorang gadis berjilbab lebar sedang duduk lesu menanti seseorang. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Di hatinya berkecamuk sebuah perasaan. Perasaan tidak enak yang mengatakan telah terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya.*** Sebulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nisakusumaningtyas.wordpress.com&amp;blog=6977271&amp;post=22&amp;subd=nisakusumaningtyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebuah Pesan</strong><br />
<em>Oleh : Nisa Kusumaningtyas</em></p>
<p>	Awan mendung menyelimuti desa Sekarwangi. Di depan rumah sederhana yang terletak paling pojok, tampak seorang gadis berjilbab lebar sedang duduk lesu menanti seseorang. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Di hatinya berkecamuk sebuah perasaan. Perasaan tidak enak yang mengatakan telah terjadi sesuatu pada kedua <span id="more-22"></span>orang tuanya.***<br />
	Sebulan yang lalu, tepat disaat Aini pulang sekolah, ia menemukan sepucuk surat yang ditulis oleh orang tuanya. Pelan-pelan ia membuka surat itu,kemudian ia membacanya.</p>
<p>Airmata Aini meleleh. Ia merasa sedih dan takut. Sedih karena ia akan ditinggal orang tuanya.Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus tinggal sendiri di rumah. Tapi Aini sangat takut karena isi surat itu seperti salam perpisahan. Salam perpisahan dari ayah dan ibunya yang sepertinya tidak akan kembali untuk selamanya.<br />
***<br />
	“Huh, sudah jam sembilan kenapa bapak dan ibu belum pulang ya?”kata Aini dalam hati.<br />
	“Ya Allah, mengapa perasaanku tidak enak!”<br />
	“Astaghfirullah, aku tidak boleh berpikir macam-macam!”<br />
	Aini pun masuk ke dalam rumah. Saat ia akan membuka pintu,terdengar suara sirine mobil ambulance dan mobil polisi datang mendekat. Ternyata mobil itu berhenti di depan rumah Aini.Aini berlari mendekati mobil ambulance itu. Tampak disana dua sosok mayat terbujur kaku masih berlumuran darah.<br />
	“Bapak ibu!”Teriak Aini sambil memeluk jenasah ayah ibunya.<br />
	“Mengapa kalian meninggalkan Aini?”<br />
	“Aini takut sendirian Bu,Pak!”<br />
	Tangis Aini semakin kencang. Ia tidak menyangka ini akan terjadi kepadanya. Ia belum siap menghadapi kenyataan ini.<br />
	“Nak!”sapa seorang polisi yang sedari tadi mengawasi Aini.<br />
	“Kita duduk disana yuk, biar ayah dan ibu dibawa masuk!”<br />
	Aini mendesah dan ia berdiri meninggalkan orang tuanya.“Ya!”kata Aini lemah.</p>
<p>	“Ini.”pak polisi menyerahkan sebuah bungkusan.<br />
	“Apa ini Pak?”<br />
	“Tidak tahu.Buka saja.Itu milik orang tuamu.”<br />
	Aini membuka bungkusan yang diberikan pak polisi. Ia terkejut. Di dalam bungkusan itu terdapat sebuah boneka yang pernah dijanjikan ibunya.<br />
	“Orang tuamu baik sekali ya?Kamu pasti bangga punya orang tua seperti mereka.”<br />
	“Iya Pak saya sangat bangga dengan mereka!”kata Aini sambil tersenyum.<br />
	“Bapak berjanji akan menemukan orang yang telah mencelakakan orang tuamu.”<br />
***<br />
	Upacara pemakaman orang tua Aini berlangsung dengan mengharukan. Aini terus menangis. Tetangga dan teman Aini berkali-kali harus menenangkan Aini. Mereka merasa iba. Anak seumur Aini telah ditinggal kedua orang tuanya.<br />
	Setelah pemakaman selesai, Aini tidak segera pulang. Ia duduk di dekat makam orang tuanya.Tiba-tiba seseorang mendekati Aini.<br />
	“In!”<br />
	“Mi!”Aini menangis sambil memeluk Rahmi sahabatnya.<br />
	Rahmi berusaha menenangkan Aini,”In, yang sabar ya!”<br />
	“Mi,kamu tahu nggak?Mereka adalah orang di dunia ini yang paling spesial di mataku”<br />
	“Mereka nggak pernah memarahi aku.Mereka selalu sabar,selalu mendukung apa yang aku kerjakan,selalu ada di sampingku saat aku sedih. Mereka bagai malaikat di mataku Mi.”<br />
	“Aku percaya kamu kok In!”kata Rahmi sambil tersenyum.<br />
	“In,pulang yuk!”<br />
	Aini hanya mengangguk kemudian meninggalkan pemakaman bersama Rahmi.<br />
***<br />
	Tiga hari setelah kematian orang tuanya, Aini pergi ke rumah bulik Rosi. Ia teringat pesan ayah dan ibunya yang mengatakan agar Aini pergi ke rumah bulik Rosi jika terjadi sesuatu dengan mereka.<br />
	Aini mencari dan terus mencari, hingga ia berhenti di depan sebuah rumah mewah. Perlahan-lahan Aini memasuki halaman rumah itu. Dengan rasa takut Aini pun mengetuk pintu. “Permisi!”kata Aini.<br />
	Tiba-tiba ada seorang wanita berbadan besar datang menghampiri Aini. Ia begitu ramah.<br />
	“Ini pasti Aini!”kata wanita berbadan besar itu. “Wah sekarang sudah besar ya!”lanjutnya.<br />
	“Iya!”jawab Aini dengan malu-malu.<br />
	“Masuk yuk!”<br />
	Aini masuk ke dalam rumah bulik Rosi. “Rumah yang sangat luas.”pikir Aini sambil melangkah mengikuti bulik Rosi.<br />
	“Duduk In!”perintah bulik Rosi.<br />
	“In, bulik sudah mendengar berita tentang ayah ibumu.Bulik ikut berduka cita ya In!”<br />
	“Iya Bulik. Ain sudah ikhlas menerima semua ini!”<br />
	“Baguslah kalau begitu.”<br />
	“Bulik!”kata Aini perlahan.<br />
	“Ada apa In?”<br />
	“Begini Bulik, bapak dan ibu Ain sebelum meninggal menulis ini untuk Ain.”Aini menyerahkan surat terakhir orang tuanya kepada bulik Rosi dan bulik Rosi membaca surat itu.<br />
	“Bulik, apakah Ain boleh tinggal disini?”<br />
	Bulik Rosi berpikir sejenak, kemudian ia berkata “ya!Kamu boleh tinggal disini!”<br />
	“Terima kasih Bulik!”<br />
***<br />
	Kehidupan Aini bersama Bulik Rosi sangat menyenangkan. Aini dianggap seperti anak sendiri oleh bulik Rosi. Maklum bulik Rosi tidak memiliki anak.<br />
	Meskipun Aini telah tinggal di rumah yang mewah, tapi sifat terpuji masih melekat dalam diri Aini. Setiap pagi ia bangun saat adzan subuh. Aini mencuci muka,wudhu lalu sholat subuh,setelah sholat subuh ia membantu bulik Rosi menyapu dan mengepel lantai, selesai menyapu dan mengepel Aini baru mandi dan berangkat sekolah. Begitulah kegiatan pagi hari Aini, yang dilakukannya setiap hari tanpa perintah dan tanpa paksaan. Sikap itu pula yang membuat bulik Rosi makin sayang dengan Aini.<br />
	Ketika Aini ulang tahun, bulik Rosi memberikannya sebuah mukena yang sangat indah dan sebuah Al-Qur’an. Aini sangat senang dengan hadiah yang diberikan buliknya. Setiap Aini akan puasa Senin-Kamis bulik Rosi selalu menemani Aini untuk makan saur. Bulik Rosi juga sering membelikan buku-buku tentang Nabi.<br />
***<br />
	Kini Aini telah beranjak dewasa. Aini sudah akan SMA. Hari ini ia menerima hasil kelulusan. Hatinya sangat berdebar-debar. Bulik Rosi yang mengambilkan pengumuman kelulusan Aini juga ikut berdebar-debar, namun ia tetap menampakkan wajah tenang di hadapan Aini.<br />
	“Kamu pasti lulus kok sayang! Bulik yakin nilai kamu pasti bagus!”<br />
	“Amin! Semoga saja ya Bulik!”.<br />
	“Ya sudah, bulik masuk ke kelas kamu dulu ya!”</p>
<p>	“Aini!”kata seorang guru memanggil wali Aini untuk maju ke depan kelas.<br />
	“Bagaimana hasil ujian keponakan saya Bu?”<br />
	“Wah Aini mendapatkan nilai yang sangat memuaskan Bu! Dia memperoleh peringkat satu di sekolah ini! Silakan Bu, ini dilihat!”<br />
	“Terima kasih Bu!”<br />
	Bulik Rosi keluar dari kelas, ia langsung memberitahukan kabar gembira ini pada Aini.<br />
	“In..In! Nilaimu bagus In.”<br />
	“Oh ya Bulik?Lihat Bulik!”<br />
	“Ini!”<br />
	“Matematika 100, Bahasa Indonesia 9,75, Bahasa Inggris 8,54, IPA 9,86!”<br />
	“Wah keponakan Bulik pintar deh! Bulik bangga!”bulik Rosi mengusap kepala Aini.<br />
	“Ah Bulik bisa saja!”<br />
	“In, pulang yuk!”<br />
	“Ayo Bulik!”</p>
<p>	Sampai di tengah jalan, bulik Rosi melihat tukang sayur yang menjadi langganan ibu-ibu di perumahan tempat bulik Rosi tinggal. Terlintas di pikiran bulik Rosi untuk memasak sayur bayam kesukaan Aini. “Hmmm, Aini pasti akan senang kalau aku memasak sayur bayam untuknya.”kata bulik Rosi dalam hati.<br />
	“In, kamu pulang dulu sana! Bulik mau pergi dulu sebentar!”<br />
	“Kemana Bulik?”<br />
	“Ada deh pokoknya! Sudah sana kamu pulang dulu!”<br />
	“Ya Bulik!”</p>
<p>	Aini pulang ke rumah, sementara itu di tempat belanja,ibu-ibu sedang memilih sayuran yang tersedia sambil berbincang-bincang.<br />
	“Bu Rosi lama tidak belanja ya?”<br />
	“Iya Bu! Aini yang selalu ke pasar untuk berbelanja!”<br />
	“Oh Aini! Ngomong-ngomong apa tidak sulit Bu satu rumah dengan orang yang berbeda keyakinan dengan ibu?”<br />
	“Iya Bu!”timpal ibu-ibu yang lain.<br />
	“Maksud ibu-ibu apa sih?”<br />
	“Bukankah lebih enak kalau satu keyakinan Bu!”<br />
	Bulik Rosi tidak menjawab. Ia cepat-cepat membayar sayuran yang akan dibelinya. Sesampai di rumah, bulik Rosi meletakkan sayuran di dapur kemudian masuk kamar. Bulik Rosi masih memikirkan pembicaraan ibu-ibu tadi. “Mungkin benar apa kata ibu-ibu. Mungkin lebih baik kami satu keyakinan!”kata bulik Rosi dalam hati.</p>
<p>	Keesokan harinya, ketika Aini sedang sarapan, bulik Rosi mendekati Aini.<br />
	“In, kamu ingin meneruskan sekolah dimana?”<br />
	“Aini ingin di SMA 3 saja Bulik. Yang favorit!”<br />
	“In, kamu sekolah sama anaknya bu Reti saja ya?”<br />
	“Bukannya anak bu Reti akan sekolah di SMA swasta Bulik?”<br />
	“Ya memang!”<br />
	“Terus?”<br />
	“Ya terus apa lagi?”<br />
	“Kenapa Bulik menyuruh Aini sekolah disana?”<br />
	Bulik Rosi menjawab dengan sedikit gelagapan,“Supaya kamu berangkat sekolahnya mudah, sekalian dengan anaknya bu Reti.”<br />
	“Tapi kan disana tidak ada yang berjilbab bulik!”<br />
	“Ya kamu tidak usah memakai jilbab Ain. Rambutmu kan bagus!”<br />
	Aini terdiam sejenak, kemudian ia berkata, “Ain tidak bisa Bulik! Ain sudah mantap memakai jilbab. Kalau memang alasan bulik agar Ain berangkat sekolahnya mudah, Ain tidak masalah kalau Ain sekolah di SMA 7 yang dekat dengan sekolah anaknya bu Reti!”<br />
	“Tapi SMA 7 kan SMA yang tidak bagus In!”<br />
	“Tidak masalah Bulik!”kata Aini sambil beranjak menuju ke kamar.</p>
<p>	Malam harinya, saat Aini sedang mengaji, bulik Rosi mengetuk pintu kamar Aini, “In ngajinya pelan-pelan saja!”<br />
	“Ya Bulik!”<br />
	“Aneh!”pikir Aini.<br />
	“Mengapa Bulik bisa berubah seperti itu ya?”<br />
	“Ah, mungkin Bulik masih capek.”<br />
	“Semoga saja besok Bulik sudah kembali seperti semula lagi.”</p>
<p>	Aini tidak menduga. Semenjak hari itu, buliknya tidak kunjung berubah. Bahkan buliknya lebih menyudutkan Aini.<br />
***<br />
	Suatu hari Aini melihat sebuah brosur, “Lomba mengarang cerpen piala kabupaten!”<br />
	“Aku akan mengikuti lomba ini!”<br />
	Dengan bantuan Rahmi, Aini mulai menulis cerpen. Setelah selesai ia segera mengirimkannya.<br />
	“Mi, doakan supaya aku menang ya!”<br />
	“Oke!”<br />
***<br />
	Hari itu tanggal 9 Januari, Aini memakai baju kuning dan berjilbab putih. Rahmi telah menunggu di depan rumah. Mereka akan melihat pengumuman lomba cerpen.Ketika mereka sampai disana, pengumuman lomba sudah akan dimulai<br />
	“Mi, aku deg-degan nih Mi!”<br />
	“Tenang saja In!”   </p>
<p>	“Ya, sekarang saatnya yang kita tunggu-tunggu. Juara satu adalah….Aini dari SMA 7!”suara pembawa acara begitu keras dan jelas.<br />
	“Mi, aku menang! Alhamdulillah!”<br />
	“Selamat ya In!”<br />
	Aini mengangguk, “Terimakasih Mi!”<br />
	“Ya. Sudah sana maju ke depan. Ditunggu tuh!”</p>
<p>	Semenjak Aini memenangkan lomba cerpen, ia bergabung dengan forum penulis di kotanya.Aini semakin sibuk. Ia sering mengahadiri seminar-seminar dan ia juga harus bolak-balik dari rumah ke tempat perkumpulan penulis yang kebetulan berada dekat dengan sekolahnya.Meskipun semakin sibuk, Aini tetap menjadi anak yang solehah. Ia tetap taat beribadah. Bulik Rosi yang melihat Aini sukses menjadi bangga, namun ia tetap pada pendiriannya, ingin agar Aini satu keyakinan dengannya.<br />
***<br />
	“In kesini sebentar!”kata bulik Rosi suatu ketika.<br />
	“Ada apa Bulik?”<br />
	“In, tanggal 16 disini akan ada acara arisan. Kamu nanti jadi penerima tamunya ya In!”<br />
	“Oh iya Bulik!”<br />
	“Tapi In..Kamu tidak usah pakai jilbab ya!Sekali ini saja In”perintah bulik Rosi.<br />
	Aini hanya terdiam. Di dalam hatinya Aini tidak ingin menuruti  perintah buliknya untuk tidak memakai jilbab. Akhirnya ia hanya menjawab ‘Insya Allah’ dan berpikir bagaimana mencari cara agar ia tidak berada di rumah buliknya ketika acara arisan.<br />
	Di dalam kamar Aini terus berpikir. Ia bingung cara apa yang bisa membuatnya bisa keluar dari rumah buliknya. Aini sudah tidak betah dengan desakan-desakan buliknya. “Ahhh, aku punya ide!”</p>
<p>	“Bulik, Ain akan mencari tempat kos yang dekat dengan tempat perkumpulan penulis. Bolehkan Bulik?”<br />
	“Kamu sudah tidak betah tinggal disini?”<br />
	“Bukan begitu bulik. Tapi Ain merasa selama ini Ain sudah merepotkan Bulik. Ain hanya ingin belajar mandiri.”<br />
	“Apa karena perintah bulik kemarin ya? Ain itu kan cuma keinginan yang mudah!”<br />
	“Bukan karena itu kok Bulik. Ain hanya ingin mandiri. Rencana ini juga sudah Ain pikirkan sejak lama!”<br />
	“Ya sudah kalau begitu! Kamu akan berangkat kapan?”<br />
	“Besok Bulik. Tadi Ain sudah minta tolong sama teman Ain untuk mencarikan tempat kos.Katanya sudah menemukan tempat kos yang bagus.”<br />
	“Ya sudahlah!”</p>
<p>	Esok harinya Aini berpamitan dengan Bulik Rosi. “Bulik, Ain pergi dulu ya! Maaf selama ini Ain sudah merepotkan Bulik!”<br />
	“Tidak In, kamu tidak pernah merepotkan Bulik. Bahkan Bulik merasa terbantu semenjak ada kamu!”<br />
	Aini hanya tersenyum, kemudian ia berpamitan, “Bulik Ain berangkat ya!”<br />
	“In, sering mampir kesini ya!”perintah bulik Rosi.<br />
	“Iya Bulik!”<br />
***<br />
	Seminggu semenjak Aini pergi, rumah bulik Rosi terasa hampa. Tidak ada lagi lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Aini, tidak ada lagi tawa Aini yang ceria.Sepi.Ya, itulah yang dirasakan bulik Rosi saat ini.Bulik Rosi merasa rindu dengan Aini.Rindu dengan suara Aini saat membaca Al-Qur’an, rindu dengan gelak tawa Aini.<br />
	Kini bulik Rosi menyadari, betapa kelirunya dia telah membuat Aini merasa tidak nyaman tinggal bersamanya. Mata bulik Rosi berkaca-kaca.Ia menangis.</p>
<p>	Di sebuah ruang ber-AC tampak seorang gadis menatap keluar jendela. Tatapannya kosong.<br />
	“In, hooi!”sapa seorang wanita cantik berbadan kurus tinggi.<br />
	“Mbak Intan ngagetin aja!”<br />
	“Ada apa In? Kok mbak perhatiin dari tadi melamun aja. Ada masalah ya?Cerita saja sama mbak.Mbak siap ndengerin kok!”<br />
	“Mbak sebenarnya Aini sedang merasa bersalah dengan seseorang.”<br />
	“Siapa In?”<br />
	“Bulik saya Mbak.”<br />
	“Lho kok bisa?”<br />
	“Aini disuruh menjadi penerima tamu saat acara arisan di rumah bulik. Tapi Ain nggak boleh pakai jilbab.Ain nggak mau Mbak.Terus Ain mencari cara untuk pergi dari rumah bulik.Ain beralasan mencari tempat kos yang dekat dengan tempat perkumpulan kita.Disitulah masalahnya mbak. Ain merasa bersalah telah membohongi bulik.”<br />
	“Ya sudah, sekarang begini saja kamu pergi ke rumah bulik kamu. Setelah itu kamu bicara baik-baik dengan beliau. Katakan apa yang kamu rasakan selama ini dengan bulik kamu. Insya Allah masalahnya akan selesai.”<br />
	“Iya mbak. Terima kasih.”</p>
<p>	Di depan tempat kos Aini sebuah mobil Jazz merah berhenti. Seorang wanita berbadan besar dengan sepatu ber-hak tinggi turun dari mobil itu. Ia masuk dan mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari dalam hingga lama ia tertegun di depan pintu.<br />
	Sementara itu sebuah angkot berhenti di perempatan jalan. Aini turun dari angkot dan berjalan menuju tempat kosnya.<br />
	“Ada tamu. Siapa ya? Sepertinya kok saya kenal dengan mobil itu.”Aini bertanya dalam hati.<br />
	Sampai di depan kos, “Bulik!”<br />
	“Aini!”<br />
	“Bulik apa kabar?”<br />
	“Baik In, sangat baik!”<br />
	“Bulik tahu dari siapa kalau Ain kos disini?”<br />
	“Dari anak Bu Reti.”<br />
	“Oh…!”<br />
	Sejenak suasana tenang. Angin yang bertiup terdengar kencang bunyinya.<br />
	“In, kamu balik ke rumah bulik ya!Bulik sepi kalau tidak ada kamu!Bulik janji Bulik akan membuat kamu nyaman tinggal di rumah bulik.”<br />
	“Ain mau tinggal dengan Bulik lagi, tapi Ain mau memakai jilbab terus ya Bulik? Bulik tidak keberatan kan?”<br />
	“Tentu saja tidak!”kata bulik Rosi sambil tersenyum.</p>
<p>	Akhirnya Aini kembali lagi ke rumah bulik Rosi. Sekarang hidup Aini bahagia. Lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya.<br />
***<br />
	“Bu, Aini pulang ke rumah ibu lagi ya?”<br />
	“Iya.”<br />
	“Terus, bagaimana kelanjutannya ?”<br />
	“Ibu-ibu kami memang berbeda keyakinan. Namun kita nyaman dengan kondisi sekarang ini. Asalkan kita mau saling menghargai, pasti hidup kita akan menyenangkan!”<br />
	Para ibu yang sedang belanja itu terdiam.<br />
***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nisakusumaningtyas.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nisakusumaningtyas.wordpress.com&amp;blog=6977271&amp;post=22&amp;subd=nisakusumaningtyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/04/07/cerpen-ke-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bda6cb9b87b35cd3c484270f15d31bf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nisakusumaningtyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita 2</title>
		<link>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/03/30/cerita-2/</link>
		<comments>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/03/30/cerita-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 06:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nisakusumaningtyas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Judul. &#8220;KULIT JERUK BALI&#8221; Di sebuah kota tinggallah seorang anak yang bernama Alex. Dia mendengar akan ada kontes kerajinan tangan untuk anak seusianya. Alex ingin mengikuti kontes kerajinan tangan itu, tapi dia tidak tahu apa yang akan ia buah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. selengkapnya<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nisakusumaningtyas.wordpress.com&amp;blog=6977271&amp;post=18&amp;subd=nisakusumaningtyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul. &#8220;KULIT JERUK BALI&#8221;</p>
<p>Di sebuah kota tinggallah seorang anak yang bernama Alex. Dia mendengar akan ada kontes kerajinan tangan untuk anak seusianya.<br />
Alex ingin mengikuti kontes kerajinan tangan itu, tapi dia tidak tahu apa yang akan ia buah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..  <em></p>
<blockquote><p>selengkapnya</p></blockquote>
<p><span id="more-18"></span></p>
<p></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nisakusumaningtyas.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nisakusumaningtyas.wordpress.com&amp;blog=6977271&amp;post=18&amp;subd=nisakusumaningtyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/03/30/cerita-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bda6cb9b87b35cd3c484270f15d31bf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nisakusumaningtyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Posting pertama</title>
		<link>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/03/16/hello-world/</link>
		<comments>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/03/16/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 12:10:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nisakusumaningtyas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[&#8221; SELAMAT DATANG DI BLOG INI&#8221;     Sorry blom mulai ada isinya  kunjungi lagi besok,  ada tulisan yang menari,    OK.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nisakusumaningtyas.wordpress.com&amp;blog=6977271&amp;post=1&amp;subd=nisakusumaningtyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221; SELAMAT DATANG DI BLOG INI&#8221;     Sorry blom mulai ada isinya  kunjungi lagi besok,  ada tulisan yang menari,    OK.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nisakusumaningtyas.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nisakusumaningtyas.wordpress.com&amp;blog=6977271&amp;post=1&amp;subd=nisakusumaningtyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nisakusumaningtyas.wordpress.com/2009/03/16/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3bda6cb9b87b35cd3c484270f15d31bf?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nisakusumaningtyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
